Setahun lebih pengalaman baru saya dengan akuarium laut, saya mulai
menyukai hobby yang satu ini. Bahkan saya mulai menyukai laut.
Sebelumnya, saya bahkan tidak pernah berwisata ke laut. Bagaimana
keadaan laut, hanya mendengar cerita dari kawan-kawan dan melihat
melalui televisi.
September 1988, untuk pertama sekali dalam usia saya waktu itu 23
tahun, saya berwisata ke laut. Waktu itu tempat wisata pantai yang
saya tuju adalah SIBOLGA yang letaknya di pantai barat pulau Sumatera.
(Anda boleh lihat di peta ). Ditempat wisata ini, Sibolga terdapat
satu teluk yang dikenal dengan Teluk Tapian Nauli. Untuk pertama
sekali pula saya menyaksikan kehidupan di pantai ini, begitu
menggugah, sangat banyak sekali rahasia yang bisa saya dapat disini.
Sejak itu, saya hampir setiap tiga bulan sekali, setiap ada liburan,
selalu menggunjungi pantai ini.
Setiap kali kunjungan, saya selalu membawa pulang batu-batu karang
yang saya kumpulkan dari pantai pada kedalaman sekitar setengah meter.
Batu-batu ini saya pilih yang banyak tumbuh alga hijau, sponge dll.
Saya masukkan ke dus dan isikan air laut secukupnya. Sesekali saya
juga mengambil rumput-rumput laut yang banyak dipantai itu dan
teripang kecil berwarna hitam serta bintang laut pasir.
Batu-batu karang ini, rumput laut dan bintang laut, setelah tiba di
rumah, saya masukkan ke akuarium saya. Tentu sebelumnya saya karantina
dulu sekitar satu hari di dus dengan air laut baru dan diberi aerator.
Dengan memasukkan batu-batu ini, ternyata dalam waktu seminggu
secara bertahap membuat warna ikan-ikan saya kembali cerah. Sebelumnya
ikan-ikan laut ini, warnanya menjadi pucat setelah sebulan diakuarium,
walaupun dia bisa bertahan sampai setengah tahun, tapi warnannya sudah
tidak secantik ikan itu ketika baru di beli dari toko akuarium.
Saya mulai amati secara lebih cermat, batu-batu yang saya masukkan
ke akuarium. Sebagian ikan memang mengkonsumsi alga-alga ( waktu itu
saya menyebutnya lumut ). Sekitar sebulan, batu-batu yang tadinya
penuh dengan tumbuhan/alga akhirnya menjadi gundul seperti batu karang
biasa.
Setelah karang di akuarium saya itu mulai gundul alganya, saya
kembali lagi ke laut ( Sibolga ) untuk mengumpulkan batu-batu karang
baru. Kemudian saya masukkan lagi. Sejak ini, beberapa jenis ikan yang
herbivor sudah bisa bertahan lama, lebih dari setahun di akuarium saya
dengan warnanya pun sudah konstan. Tapi, rumput laut, bintang laut dan
teripang hitam sungguh heran, tidak bisa bertahan lama. Hanya sekitar
3 hari sampai seminggu, umumnya sudah mati. Yang lebih membinggungkan
saya lagi, adalah teripang laut ini. Dia bisa mengeluarkan sejenis
getah sampai mengotori akuarium kita. Bila Getahnya kena ke baju kita,
saya tidak yakin merek detergen terkenal di negara kita bisa
membersihkannya lagi.
Saat ini sekitar tahun 1990 sampai 1991, akuarium laut saya sudah
bisa tampil lumayan, orang tidak hanya melihat ikan hias dan batu
karang mati saja di akuarium saya. Tapi kita sudah bisa melihat adanya
Mantis Shrimp yang kecil. Mantis Shrimp ini bisa membuat suara-suara
aneh dalam akuarium kita. Kita juga bisa melihat kepiting kecil
berwarna merah berada dicelah-celah karang. Batu-batu karang, sebagian
sudah ada berwarna hijau, merah, jingga dan pink. Ternyata ini adalah
warna-warna alga yang tumbuh di batu karang - batu karang tersebut.
Memang tidak tahan lama, mereka paling baik hanya bertahan sekitar 3
minggu, selanjutnya akan kembali ke warna coklat/abu-abu hitam. Saya
terpaksa harus rajin menukarnya dengan batu-batu karang yang baru
dikumpul dari laut setiap 2 - 3 bulan sekali, agar akuarium saya tetap
tampil dengan warna-warni yang indah.
Sampai tahap ini, saya mulai menyadari bahwa ada factor lain yaitu
tumbuhan-tumbuhan atau organisma-organisma lain yang hidup pada
celah-celah di batu-batu karang yang saya kumpulkan langsung dari laut
ini, berperan dalam ekosistem akuarium laut saya. Jadi kita tidak bisa
hanya mengandalkan akuarium yang besar, air yang bersih atau
sering-sering tukar air laut, sudah dapat menjamin kelangsungan
kehidupan dalam akuarium laut kita.
Hal ini semakin diperkuat dengan sering adanya tayangan-tayangan di
Televisi Pendidikan Indonesia mengenai kehidupan laut dan pantai.
Sejak itu saya mulai sering menyaksikan program discovery dari
televisi asing yang bisa saya peroleh siarannya melalui antena
parabola. Kadang-kadang saya mendapatkannya melalui channer TPI.
Sungguh sayang sekali saat ini, tayangan-tayangan tersebut sering
ditayangkan pada jam-jam larut malam. Mulai jam-jam 23:00 malam. Dan
versinya juga sering diulang yang itu-itu saja. Pada hal program
tersebut sangat bermanfaat untuk pengetahuan anak-anak kita. Malah
siaran-siaran sekitar jam 19:00 sekarang banyak di-isi dengan
sinetron-sinetron yang sebenarnya untuk tontonan orang dewasa yang
lebih sesuai ditayangkan jam-jam 22:00 ke atas.
Begitulah kondisi saya tentang akuarium laut pada tahun 1991 ke
1992. Sering belajar dari program discovery di televisi dan belajar
langsung ke pantai/laut. Saat itu saya mulai berani mencari dari laut
beberapa hewan karang seperti anemon, jamur-jamuran, dan cacing kipas.
Pengetahuan tentang anemon, jamu-jamuran dan belum cukup saat itu,
sehingga anemon dan jamur-jamuran yang saya bawa dari laut hanya bisa
bertahan tiga hari sampai seminggu dalam akuarium saya. Sedangkan
cacing kipas, tidak begitu sulit merawatnya, dia bisa bertahan cukup
lama dalam akuarium.
Agustus 1992, sejak saat itu bisa dikatakan satu tahapan baru lagi
buat pengalaman akuarium laut saya. Pada saat itu saya mulai dapatkan
dua buku tentang akuarium laut dari toko buku GRAMEDIA, yaitu : IKAN
HIAS AIR LAUT karangan Heru Susanto ( buku berbahasa Indonesia ) dan A
FISHKEEPER’S GUIDE TO MARINE FISHES karangan Dick Mills ( buku
berbahasa Inggris ). Kedua buku ini menjadi sejarah baru buat saya
memasuki hobby akuarium laut ini. Setelah mempelajari kedua buku
tersebut sekitar dua bulan, pada November 1992 saya ubah total sistem
akuarium laut saya. Saya buang semua isi akuarium saya, dan men-setup
kembali isi akuarium saya. Akuarium saya tetap saya pertahankan, tapi
isinya saya tukar baru semuanya dan mengikuti petunjuk dari kedua buku
yang saya pelajari.
Kurang yakin dengan petunjuk dari buku-buku tersebut, saya kembali
membongkar dan setup ulang akuarium laut saya pada Desember 1992.
Setelah saya temukan beberapa judul buku lagi pada bulan tersebut.
Kedua buku ini memiliki sistem yang sangat berbeda. Buku IKAN HIAS
AIR LAUT, berbahasa Indonesia ini, mengemukakan sistem akuarium laut
yang mempergunakan perlengkapan-perlengkapan akuarium yang umum dan
dengan mudah kita dapatkan ditoko-toko akuarium. Seperti aerator, alat
penyaring ( filter ), lampu penerang, heater/termostat, termometer,
salinometer, dan pembersih akuarium. Dalam buku ini kita belum
mengenal istilah protein skimmer, metal halide lighting, very high
output ( VHO ) lighting, calcium reactor, dll.
Sebaliknya buku berjudul A FISHKEEPER’S GUIDE TO MARINE FISHES ,
berbahasa Inggris ini, kita menjumpai seperangkat perlengkapan
akuarium yang sebelumnya saya tidak pernah tahu, seperti yang telah
saya sebutkan diatas. Bahkan saya sudah mencari ke toko-toko akuarium
yang lengkap dikota saya bahkan ke Jakarta waktu itu, istilah-istilah
seperti protein skimmer dan calcium reactor, tidak ada yang pernah
dengar. Saya tunjukkan gambar yang ada di buku itu lagi, tak ada yang
pernah lihat alat itu di sini. Ternyata saat ini toko-toko akuarium
laut di Jakarta pun, sebagian perangkat seperti VHO fluorescent light
masih banyak yang tidak kenal. Pada hal, VHO fluorescent bulbs ini
adalah lampu yang umum bagi hobbies akuarium laut, khususnya corals
reef aquaria.
Perbedaan ilmu pengetahuan dan teknologie sangat jelas terlihat
dari kedua buku tersebut, saya menyadari masih banyak hal yang harus
saya pelajari, ternyata akuarium laut tidak semudah seperti orang
menghadirkan akuarium air tawar dengan arwana atau diskus ke rumahnya.
Pada Desember 1992, saya menjumpai lagi beberapa buku tentang laut.
Dan semuanya saya beli, karena ingin tahu sekali apa rahasianya. Yaitu
: MARINE LIFE OF INDONESIA AND SOUTHEAST ASIA text by Gerald Allen,
Phd; HOW TO KEEP TROPICAL AQUARIUM FISH by Jonathan Stuart; AN
UNDERWATER GUIDE TO THE SOUTH CHINA SEA by Chou Loke Ming &
Porfirio M. Alino; TROPICAL REEF-FISHES OF THE WESTERN PACIFIC,
INDONESIA AND ADJACENT WATERS by Rudie H. Kuiter; LAUT NUSANTARA oleh
Dr. Anugerah Nontji.
Setelah mempejari buku-buku tersebut, menjelang Natal 25 Desember
1992 dan mengabungkan dengan pengalaman saya dengan pantai di Sibolga
dan batu karang-batu karang serta rumput laut, bintang laut, anemon,
teripang yang saya tangkap dan kumpulkan selama ini, saya mensetup
ulang kembali isi akuarium saya dan siap dengan wajah baru pada 5
Januari 1993. Saya berada di laut untuk mendapatkan keperluan akuarium
laut saya pada liburan Natal tahun 1993 itu selama sembilan hari,
sejak 24 Desember 1993 sampai 31 Desember 1993.
Awal tahun 1993, saya memulai pengalaman baru akuarium laut saya
dengan dibantu oleh beberapa informasi dari buku-buku yang saya beli,
program-program discovery tentang laut di televisi, dan mengamati
langsung kehidupan kecil di pantai Sibolga.
Hasilnya bagaimana ? silakan ikuti lanjutan artikel ini pada bagian
ketiga. Diskusi dantanya jawab tentang artikel ini, dipersilakan ke
forum saja.
KESIMPULAN / HIPOTESA SEMENTARA
Membangun satu ekosistem laut dalam akuarium, memerlukan banyak
pengetahuan tentang laut dan kehidupannya, dan tidak bisa mengandalkan
apa yang dilihat mata kita begitu saja ketika berada di toko-toko
akuarium laut.
Menghadirkan satu akuarium laut, tidak semudah kita menghadirkan
akuarium air tawar di rumah kita dengan ikan arwana atau diskus.
Banyak pengetahuan dan perangkat yang kita perlukan untuk menunjang
kelangsungan hidup ekosistem tersebut.