MEDIA INFORMASI IKAN HIAS DAN TANAMAN AIR
Pastikan Aquarium Anda Indah dan Sehat
  online store  
 

 

   

 

 
PENGALAMAN 15 TAHUN BERSAMA AKUARIUM LAUT
oleh Jong Huat (13 Februari 2003)
(BAGIAN KEDUA)
 
Periode Juni 1988 sampai dengan Januari 1993.

Setahun lebih pengalaman baru saya dengan akuarium laut, saya mulai menyukai hobby yang satu ini. Bahkan saya mulai menyukai laut. Sebelumnya, saya bahkan tidak pernah berwisata ke laut. Bagaimana keadaan laut, hanya mendengar cerita dari kawan-kawan dan melihat melalui televisi.

September 1988, untuk pertama sekali dalam usia saya waktu itu 23 tahun, saya berwisata ke laut. Waktu itu tempat wisata pantai yang saya tuju adalah SIBOLGA yang letaknya di pantai barat pulau Sumatera. (Anda boleh lihat di peta ). Ditempat wisata ini, Sibolga terdapat satu teluk yang dikenal dengan Teluk Tapian Nauli. Untuk pertama sekali pula saya menyaksikan kehidupan di pantai ini, begitu menggugah, sangat banyak sekali rahasia yang bisa saya dapat disini. Sejak itu, saya hampir setiap tiga bulan sekali, setiap ada liburan, selalu menggunjungi pantai ini.

Setiap kali kunjungan, saya selalu membawa pulang batu-batu karang yang saya kumpulkan dari pantai pada kedalaman sekitar setengah meter. Batu-batu ini saya pilih yang banyak tumbuh alga hijau, sponge dll. Saya masukkan ke dus dan isikan air laut secukupnya. Sesekali saya juga mengambil rumput-rumput laut yang banyak dipantai itu dan teripang kecil berwarna hitam serta bintang laut pasir.

Batu-batu karang ini, rumput laut dan bintang laut, setelah tiba di rumah, saya masukkan ke akuarium saya. Tentu sebelumnya saya karantina dulu sekitar satu hari di dus dengan air laut baru dan diberi aerator.

Dengan memasukkan batu-batu ini, ternyata dalam waktu seminggu secara bertahap membuat warna ikan-ikan saya kembali cerah. Sebelumnya ikan-ikan laut ini, warnanya menjadi pucat setelah sebulan diakuarium, walaupun dia bisa bertahan sampai setengah tahun, tapi warnannya sudah tidak secantik ikan itu ketika baru di beli dari toko akuarium.

Saya mulai amati secara lebih cermat, batu-batu yang saya masukkan ke akuarium. Sebagian ikan memang mengkonsumsi alga-alga ( waktu itu saya menyebutnya lumut ). Sekitar sebulan, batu-batu yang tadinya penuh dengan tumbuhan/alga akhirnya menjadi gundul seperti batu karang biasa.

Setelah karang di akuarium saya itu mulai gundul alganya, saya kembali lagi ke laut ( Sibolga ) untuk mengumpulkan batu-batu karang baru. Kemudian saya masukkan lagi. Sejak ini, beberapa jenis ikan yang herbivor sudah bisa bertahan lama, lebih dari setahun di akuarium saya dengan warnanya pun sudah konstan. Tapi, rumput laut, bintang laut dan teripang hitam sungguh heran, tidak bisa bertahan lama. Hanya sekitar 3 hari sampai seminggu, umumnya sudah mati. Yang lebih membinggungkan saya lagi, adalah teripang laut ini. Dia bisa mengeluarkan sejenis getah sampai mengotori akuarium kita. Bila Getahnya kena ke baju kita, saya tidak yakin merek detergen terkenal di negara kita bisa membersihkannya lagi.

Saat ini sekitar tahun 1990 sampai 1991, akuarium laut saya sudah bisa tampil lumayan, orang tidak hanya melihat ikan hias dan batu karang mati saja di akuarium saya. Tapi kita sudah bisa melihat adanya Mantis Shrimp yang kecil. Mantis Shrimp ini bisa membuat suara-suara aneh dalam akuarium kita. Kita juga bisa melihat kepiting kecil berwarna merah berada dicelah-celah karang. Batu-batu karang, sebagian sudah ada berwarna hijau, merah, jingga dan pink. Ternyata ini adalah warna-warna alga yang tumbuh di batu karang - batu karang tersebut. Memang tidak tahan lama, mereka paling baik hanya bertahan sekitar 3 minggu, selanjutnya akan kembali ke warna coklat/abu-abu hitam. Saya terpaksa harus rajin menukarnya dengan batu-batu karang yang baru dikumpul dari laut setiap 2 - 3 bulan sekali, agar akuarium saya tetap tampil dengan warna-warni yang indah.

Sampai tahap ini, saya mulai menyadari bahwa ada factor lain yaitu tumbuhan-tumbuhan atau organisma-organisma lain yang hidup pada celah-celah di batu-batu karang yang saya kumpulkan langsung dari laut ini, berperan dalam ekosistem akuarium laut saya. Jadi kita tidak bisa hanya mengandalkan akuarium yang besar, air yang bersih atau sering-sering tukar air laut, sudah dapat menjamin kelangsungan kehidupan dalam akuarium laut kita.

Hal ini semakin diperkuat dengan sering adanya tayangan-tayangan di Televisi Pendidikan Indonesia mengenai kehidupan laut dan pantai. Sejak itu saya mulai sering menyaksikan program discovery dari televisi asing yang bisa saya peroleh siarannya melalui antena parabola. Kadang-kadang saya mendapatkannya melalui channer TPI.

Sungguh sayang sekali saat ini, tayangan-tayangan tersebut sering ditayangkan pada jam-jam larut malam. Mulai jam-jam 23:00 malam. Dan versinya juga sering diulang yang itu-itu saja. Pada hal program tersebut sangat bermanfaat untuk pengetahuan anak-anak kita. Malah siaran-siaran sekitar jam 19:00 sekarang banyak di-isi dengan sinetron-sinetron yang sebenarnya untuk tontonan orang dewasa yang lebih sesuai ditayangkan jam-jam 22:00 ke atas.

Begitulah kondisi saya tentang akuarium laut pada tahun 1991 ke 1992. Sering belajar dari program discovery di televisi dan belajar langsung ke pantai/laut. Saat itu saya mulai berani mencari dari laut beberapa hewan karang seperti anemon, jamur-jamuran, dan cacing kipas. Pengetahuan tentang anemon, jamu-jamuran dan belum cukup saat itu, sehingga anemon dan jamur-jamuran yang saya bawa dari laut hanya bisa bertahan tiga hari sampai seminggu dalam akuarium saya. Sedangkan cacing kipas, tidak begitu sulit merawatnya, dia bisa bertahan cukup lama dalam akuarium.

Agustus 1992, sejak saat itu bisa dikatakan satu tahapan baru lagi buat pengalaman akuarium laut saya. Pada saat itu saya mulai dapatkan dua buku tentang akuarium laut dari toko buku GRAMEDIA, yaitu : IKAN HIAS AIR LAUT karangan Heru Susanto ( buku berbahasa Indonesia ) dan A FISHKEEPER’S GUIDE TO MARINE FISHES karangan Dick Mills ( buku berbahasa Inggris ). Kedua buku ini menjadi sejarah baru buat saya memasuki hobby akuarium laut ini. Setelah mempelajari kedua buku tersebut sekitar dua bulan, pada November 1992 saya ubah total sistem akuarium laut saya. Saya buang semua isi akuarium saya, dan men-setup kembali isi akuarium saya. Akuarium saya tetap saya pertahankan, tapi isinya saya tukar baru semuanya dan mengikuti petunjuk dari kedua buku yang saya pelajari.

Kurang yakin dengan petunjuk dari buku-buku tersebut, saya kembali membongkar dan setup ulang akuarium laut saya pada Desember 1992. Setelah saya temukan beberapa judul buku lagi pada bulan tersebut.

Kedua buku ini memiliki sistem yang sangat berbeda. Buku IKAN HIAS AIR LAUT, berbahasa Indonesia ini, mengemukakan sistem akuarium laut yang mempergunakan perlengkapan-perlengkapan akuarium yang umum dan dengan mudah kita dapatkan ditoko-toko akuarium. Seperti aerator, alat penyaring ( filter ), lampu penerang, heater/termostat, termometer, salinometer, dan pembersih akuarium. Dalam buku ini kita belum mengenal istilah protein skimmer, metal halide lighting, very high output ( VHO ) lighting, calcium reactor, dll.

Sebaliknya buku berjudul A FISHKEEPER’S GUIDE TO MARINE FISHES , berbahasa Inggris ini, kita menjumpai seperangkat perlengkapan akuarium yang sebelumnya saya tidak pernah tahu, seperti yang telah saya sebutkan diatas. Bahkan saya sudah mencari ke toko-toko akuarium yang lengkap dikota saya bahkan ke Jakarta waktu itu, istilah-istilah seperti protein skimmer dan calcium reactor, tidak ada yang pernah dengar. Saya tunjukkan gambar yang ada di buku itu lagi, tak ada yang pernah lihat alat itu di sini. Ternyata saat ini toko-toko akuarium laut di Jakarta pun, sebagian perangkat seperti VHO fluorescent light masih banyak yang tidak kenal. Pada hal, VHO fluorescent bulbs ini adalah lampu yang umum bagi hobbies akuarium laut, khususnya corals reef aquaria.

Perbedaan ilmu pengetahuan dan teknologie sangat jelas terlihat dari kedua buku tersebut, saya menyadari masih banyak hal yang harus saya pelajari, ternyata akuarium laut tidak semudah seperti orang menghadirkan akuarium air tawar dengan arwana atau diskus ke rumahnya.

Pada Desember 1992, saya menjumpai lagi beberapa buku tentang laut. Dan semuanya saya beli, karena ingin tahu sekali apa rahasianya. Yaitu : MARINE LIFE OF INDONESIA AND SOUTHEAST ASIA text by Gerald Allen, Phd; HOW TO KEEP TROPICAL AQUARIUM FISH by Jonathan Stuart; AN UNDERWATER GUIDE TO THE SOUTH CHINA SEA by Chou Loke Ming & Porfirio M. Alino; TROPICAL REEF-FISHES OF THE WESTERN PACIFIC, INDONESIA AND ADJACENT WATERS by Rudie H. Kuiter; LAUT NUSANTARA oleh Dr. Anugerah Nontji.

Setelah mempejari buku-buku tersebut, menjelang Natal 25 Desember 1992 dan mengabungkan dengan pengalaman saya dengan pantai di Sibolga dan batu karang-batu karang serta rumput laut, bintang laut, anemon, teripang yang saya tangkap dan kumpulkan selama ini, saya mensetup ulang kembali isi akuarium saya dan siap dengan wajah baru pada 5 Januari 1993. Saya berada di laut untuk mendapatkan keperluan akuarium laut saya pada liburan Natal tahun 1993 itu selama sembilan hari, sejak 24 Desember 1993 sampai 31 Desember 1993.

Awal tahun 1993, saya memulai pengalaman baru akuarium laut saya dengan dibantu oleh beberapa informasi dari buku-buku yang saya beli, program-program discovery tentang laut di televisi, dan mengamati langsung kehidupan kecil di pantai Sibolga.

Hasilnya bagaimana ? silakan ikuti lanjutan artikel ini pada bagian ketiga. Diskusi dantanya jawab tentang artikel ini, dipersilakan ke forum saja.

 
Kesimpulan / Hipotesa Sementara

Membangun satu ekosistem laut dalam akuarium, memerlukan banyak pengetahuan tentang laut dan kehidupannya, dan tidak bisa mengandalkan apa yang dilihat mata kita begitu saja ketika berada di toko-toko akuarium laut.

Menghadirkan satu akuarium laut, tidak semudah kita menghadirkan akuarium air tawar di rumah kita dengan ikan arwana atau diskus. Banyak pengetahuan dan perangkat yang kita perlukan untuk menunjang kelangsungan hidup ekosistem tersebut.

 

  

 

Kecuali disebutkan dengan jelas, seluruh tulisan, gambar, ilustrasi dan foto pada situs web ini dibuat oleh Wahyu Purwakusuma. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi situs ini dalam bentuk maupun media apapun tanpa ijin tertulis dari O-Fish.com