Berdasarkan uraian diatas mestinya bisa dibangkitkan pertanyaan bagaimana sumber CO2 dalam suatu lingkungan akuarium. CO2 dalam suatu akuarium tanaman melulu berasal dari proses dekomposisi sisa pakan ikan, kotoran, dan bahan organik pada substrat, juga berasal dari proses metobalisme, dalam hal ini adalah proses respirasi ikan dan hewan akuatik lainnya. Apakah jumlahnya akan mencukupi?. Lagi-lagi hal ini akan tergantung pada strategi hobiis dalam menyiasati supply dan demand terhadap CO2. Hal ini bisa menjadi "seni" tersendiri dalam melakukan kegiatan aquascaping dibandingkan dengan menggantungkan diri pada suplay gas CO2. Seni ini bisa diperkaya dengan pengetahuan mengenai strategi tanaman air dalam mendapatkan karbon (C) selain melalui CO2. Dengan demikian aquascaper masih akan dapat menikmati tanaman airnya pada lingkungan rendah CO2 dengan memilih tanaman-tanaman air yang mampu menyerap karbon dari bentuk selain CO2.
Apabila CO2 dalam akuarium hanya disandarkan pada proses alamiah melalui proses dekomposisi, maka perlu dilakukan tindakan "pengawetan" untuk mencegah hilangnya CO2 dari akuarium. Seperti diketahui CO2 adalah gas, oleh karena itu ia bisa hilang melalui segala tindakan yang menyebabkan terjadinya peningkatan percampuran air dengan udara. Hal ini bisa terjadi misalnya melalui goncangan permukaan air, penggunaan sprayer air, batu aerator, atau penggunaan filter wet and dry. Tidak berarti bahwa harus tidak ada gerakan sama sekali dalam akurium tanaman, tapi harus diatur sedemikian rupa agar gerakan air yang diperlukan untuk menyebarkan dan mengantarkan hara ke tanaman dan penyebaran panas serta oksigen tidak sampai menyebabkan CO2 hilang ke udara.
Perlu diingat bahwa tanaman air di habitat aslinya sudah terbiasa dan beradaptasi dengan lingkungan rendah CO2 atau dengan kadar CO2 yang berfluktuasi. Banyak jenis tanaman air yang telah mengembangkan mekanisme pertahanan terhadap kondisi tersebut dan memiliki strategi alamiah untuk meningkatkan penyerapan CO2 dari air atau mengawetan CO2 yang telah mereka dapatkan sebelumnya. Kemampuan demikian tentu saja akan tetap mereka bawa kedalam lingkungan akuarium. Oleh karena itu meskipun hobiis bisa saja meningkatkan pertumbuhan mereka secara dramatis dengan pemberian tambahan gas CO2, tidak ada salahnya dicoba membangkitkan kemampuan alamiah mereka agar bisa lebih memahami bagaimana ibu alam telah membesarkan mereka dilingkungannya.
Pada umumnya tanaman air dalam akuarium akan tumbuh lebih baik dengan menggunakan tambahan CO2, hal ini bisa terjadi karena CO2 biasanya menjadi faktor pembatas pada lingkungan akuarium yang cenderung lebih kaya unsur hara seperti nitrogen dan fosfor. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa penambahan CO2 mau tidak mau akan menimbulkan efek domino pada proses lainnya, seperti peningkatan kebutuhan akan unsur hara tambahan, kegiatan pemangkasan yang meningkat akibat pertumbuhan tanaman yang cepat, keseimbangan kimiawi air yang perlu dimonitor dengan ketat, seperti pH dan KH, untuk memastikan bahwa buffer alkalinitas air tetap berfungsi dengan baik. Over dosis CO2 sering pula dilaporkan terjadi pada proses penambahan CO2 terutama pada malam hari. Selain itu diketahui dapat terjadi efek jangka panjang terhadap substrat akuarium tanaman sebagai akibat penambahan CO2 yang menyebabkan akuarium tanaman gagal setelah satu atau dua tahun.
Walaubagaimanapun pilihan untuk menggunakan tambahan CO2 atau tidak sepenuhnya tergantung pada aquascaper itu sendiri. Tidak heran kalau kemudian dilingkungan aquascaping terdapat 2 kubu hobiis, yaitu kubu yang berkiblat pada proses alamiah dan kubu yang berkiblat pada teknologi (injeksi CO2 dengan peralatan pendukungknya). Bagi mereka yang tidak ingin berpikir "njlimet" pilihan pemberian tambahan CO2 bisa menjadi pilihan terbaik, sedangkan bagi mereka yang berbekal pengetahuan kebumian cukup pilihan dengan pendekatan alamiah bisa merupakan pilihan yang sangat menyenangkan. Semoga tulisan ringkas ini bisa menjadi pengantar bagi anda bagaimana menentukan sikap anda dalam beraquascaping. Semoga. |