MEDIA INFORMASI IKAN HIAS DAN TANAMAN AIR
Pastikan Aquarium Anda Indah dan Sehat
 
koleksi hobiis
profil hobiis
online store  
 

 

   

 

 
Lou Han, icon baru pebisnis Medan **)
oleh: Edy Hafidl *)
 

Jika Anda datang ke distrik bisnis di Medan di kawasan Jl. Kesawan, Jl. Dr. Sutomo atau Jl. Pandu, yang umumnya dikuasai oleh warga Tionghoa, maka Anda akan melihat sesuatu yang baru dalam hal sarana untuk mendatangkan 'hoki' atau peruntungan di tempat bisnis mereka.

Dahulu, peruntungan atau hoki bisa diwujudkan dengan simbol-simbol huruf Cina yang digantungkan di depan pintu, atau bisa juga dengan hio (dupa kemenyan) berbau harum yang diletakkan di dinding depan rumah. Namun sejak beberapa bulan terakhir, simbol hoki bagi warga Tionghoa di Medan bukan lagi simbol huruf atau hio, namun, kini berubah dengan hoki bernama ikan Lou Han (atau sering disebut dengan Flower Horn).

Ikan Lou Han, yang dicirikan dengan benjolan di kepala--sering diistilahkan dengan jenong atau nonong -- warna-warni di tubuh serta adanya rajah huruf Cina atau huruf Arab di badannya, memang menjadi sangat populer di Indonesia selama dua tahun belakangan. Disebut juga flower horn karena badannya yang warna-warni bagai bunga, dan benjolan di kepala yang seolah bagai sebuah tanduk. Si ikan benjol ini bahkan, semakin marak diburu pebisnis Medan pada satu tahun belakangan.

Jenong di kepala dan rajah di badan Lou Han, dipercaya akan mendatangkan hoki. Dan karena itu lah, harga Lou Han menjadi tidak rasional, bisa puluhan juta, hingga ratusan juta rupiah seekornya. Pekan lalu, di sebuah situs iklan di internet, seekor Lou Han bertuliskan rajah angka hoki 999, ditawarkan seharga Rp100 juta, sebab angka 9 memang angka hoki bagi kalangan Tionghoa.

Namun rajah hoki pada Lou Han bukan hanya karena adanya rajah angka. Adapula rajah huruf. Seorang pebisnis sudi mengeluarkan Rp25 juta untuk seekor Lou Han karena di badan Lou Han terdapat sebuah huruf R, yang sama dengan inisial pebisnis tersebut. Karena itu lah, seekor 'bayi' Lou Han, bisa dihargai mulai Rp30.000 per ekor, hingga Rp850.000 per ekor untuk Lou Han jenis Jaguar.

Sesuatu yang konyol memang, di era krisis, ketika orang susah cari duit, maka kalangan pebisnis di Medan justru menghambur-hamburkan uang puluhan juta bahkan hingga ratusan juta hanya untuk mendapatkan hoki dari seekor ikan.

Fenomena maraknya ikan Lou Han di Indonesia, semakin memperkuat asumsi bahwa masyarakat Indonesia di saat krisis ini, menjadi semakin suka pada sesuatu yang pada dasarnya irrasional secara matematis, bahkan cenderung berbau mistis.

Menurut Teng Ching Sing dan M. Sitanggang dalam buku karangan mereka, Lou Han si Ikan Hoki (Jakarta, AgroMedia Pustaka: 2002), ikan Lou Han sendiri mulai dikembangkan di Malaysia sekitar tujuh hingga delapan tahun lalu.

Oh ya, perlu diketahui bahwa Lou Han dapat dikatakan sebagai species ikan 'jadi-jadian' karena ikan ini tidak pernah eksis di alam. Lou Han merupakan ikan hibrida, yang merupakan hasil dari persilangan 19 generasi kawin silang dari ikan jenis Siklid yang berasal dari Afrika dan Amerika Selatan. Walaupun ikan Lou Han sendiri 'diciptakan' pertama kali di Malaysia. Karena ikan ini memang 'buatan' manusia, maka seringkali orang menjulukinya 'Franken-fish,' yang merupakan pelesetan dari makhluk manusia dalam fiksi ilmiah di sebuah novel, Frankenstein.

Benarkah ikan Lou Han bisa mendatangkan hoki. Jawabnya, tentu bisa percaya bisa tidak, sebab ada pemeluk agama tertentu, Islam misalnya, melarang mempercayai hal-hal mistis karena dianggap menyekutukan Tuhan atau syirik.

Namun simaklah apa yang dituturkan salah seorang pebisnis Tionghoa di Medan, bernama Surya Darma, yang memiliki enam ekor Lou Han. "Saya memang berjodoh dengan Lou Han milik saya, karena dalam badan Lou Han saya terdapat huruf Cina bertuliskan S, Y dan D, sesuai dengan nama saya, Surya Darma," ujarnya dalam sebuah perbincangan kepada Bisnis, belum lama ini.

Surya Darma menambahkan bahwa Lou Han juga bisa menjadi pertanda bagi pemiliknya, jika pemiliknya di'guna-guna' oleh orang lain. "Pernah, ada orang ingin mencederai saya. Tapi apa yang terjadi, Lou Han saya lompat dari akuarium, karena ingin bunuh diri mempertahankan diri saya," ujarnya. Demikian pula soal rezeki. "Ya.. syukurlah, selama saya memiliki Lou Han, Tuhan melapangkan rezeki saya," ujarnya.

Benarkah demikian? Jawabnya wallahua'lam bishawab. Namun, jika kehadiran Lou Han memang mendatangkan rezeki bagi banyak orang, mungkin ada benarnya. Buktinya, saat ini, muncul puluhan toko Lou Han dan akuarium baru di Medan, belum terhitung pedagang Lou Han 'kaki lima' di Jl. Thamrin dan Jl. Juanda, Medan Lalu, muncul pula jasa pendukungnya, yakni para pengepul cacing dan jentik-jentik nyamuk--yang menjadi makanan sedap bagi Lou Han. Belum lagi rezeki bagi tukang kaca dan tukang akuarium. Lou Han karena itu, memang menjadi icon baru bagi pebisnis di Medan. --Edy Hafidl 

==================================================

*) Kepala Perwakilan Harian Ekonomi Bisnis Indonesia Sumatera Bagian Utara

**) Pernah dimuat di Harian Ekonomi Bisnis Indonesia edisii 16 November 2002, hl.1

  

 

Kecuali disebutkan dengan jelas, seluruh tulisan, gambar, ilustrasi dan foto pada situs web ini dibuat oleh Wahyu Purwakusuma. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi situs ini dalam bentuk maupun media apapun tanpa ijin tertulis dari O-Fish.com