MEDIA INFORMASI IKAN HIAS DAN TANAMAN AIR
Pastikan Aquarium Anda Indah dan Sehat
 
koleksi hobiis
profil hobiis
online store  
 

 

   

 

 
DROPSY

Pernahkah anda menemukan ikan kesayangan anda berperut sangat buncit, padahal ikan tersebut tidak sedang "hamil" atau bahkan berkelamin jantan, dan bukan pula kelompok ikan berperut buncit ??. Bila ditemukan gejala seperti itu pada ikan anda dan diyakini merupakan penyimpangan dari penampakan normalnya, kemungkinan besar ikan tersebut terkena gejala dropsy.

Dropsy merupakan gejala dari suatu penyakit bukan penyakit itu sendiri.  Gejala dropsy ditandai dengan terjadinya pembengkakan pada rongga tubuh ikan.  Pembengkakan tersebut sering menyebabkan sirip ikan berdiri sehingga penampakannya akan menyerupai buah pinus.

Gambar 1.
Dropsy pada Platty (kiri) dan Cupang (kanan) . Tampak sisik yang berdiri (mengembang) sehingga menyerupai bentuk buah pinus.
(Photo: W.Purwakusuma)
Gambar 2.
Dropsy tampak samping, menunjukkan perut membuncit sebagai akibat akumulasi cairan/lendir pada rongga perut.
(Photo: W.Purwakusuma)

Pembengkakan terjadi sebagai akibat berakumulasinya cairan, atau lendir dalam rongga tubuh.  Gejala ini kerap disertai dengan gejala malas bergerak, gangguan pernapasan, dan atau warna kulit pucat kemerahan.

Gambar 3.
Akumulasi cairan selain akan menyisakan rongga yang "menganga" lebar, juga akan menyebabkan organ dalam tubuh ikan tertekan. Bila gelembung renang ikut tertekan dapat menyebabkan keseimbangan ikan terganggu (Photo: W.Purwakusuma)
 
Penyebab

Merupakan akibat dari infeksi virus, bakteri aeromonas, myobakteri, atau parasit seperti Hexamita.  Kondisi air akuarium yang tidak bagus (seperti akibat terjadinya akumulasi nitrogen) dapat memicu terjadinya gejala dropsy.  Secara alamiah bakteri penyebab dropsy kerap dijumpai dalam lingkungan akuarium, tetapi biasanya dalam jumlah normal dan terkendali.  Perubahan bakteri ini menjadi patogen, bisa terjadi karena akibat masalah  osmoregulator pada ikan, atau karena hal-hal seperti: kondisi lingkungan akuarium yang memburuk,  menurunnya fungsi kekebalan tubuh ikan, malnutrisi atau karena faktor genetik. 

Infeksi utama biasanya terjadi melalui mulut, yaitu ikan secara sengaja atau tidak memakan kotoran ikan lain yang terkontaminasi patogen atau akibat kanibalisme terhadap ikan lain yang terinfeksi.

Tiga tingkatan penyakit yang mungkin terjadi adalah:

  • akut: infeksi terjadi dengan cepat sehingga ikan mati tanpa menunjukkan gejala yang jelas.
  • kronis: infeksi terjadi secara perlahan secara sistemik dan menujukkan berbagai gejala yaitu pembengkakan rongga tubuh, yang bisa disertai dengan ulcer dan atau exophthalmia.
  • laten: infeksi terjadi sangat lemah sehingga ikan tampak tidak menunjukkan gejala penyakit, tetapi berpotensial sebagai pembawa (carrier). 
Pencegahan dan Pengobatan
Pastikan bahwa akurium selalu dalam kondisi prima (optimal), dan hindari jangan sampai ikan stres.  Ikan yang sakit  harus segera diisolasi dan dirawat secara optimal.  Perendaman secara kontinyu dalam jangka panjang dengan anti bakteri internal dalam beberapa kasus bisa efektif.  Meskipun demikian,  apabila ikan tidak respon, pengobatan bisa  dilakukan melalui pakan (dicampur dengan pakan), sebagai contoh: Oxytetracycline atau Chloramphenicol dapat diberikan dengan dosis 55 mg/kg berat ikan perhari, selama 10 hari; atau sulphamerazine dengan dosis 265 mg/kg berat badan selama tiga hari.

  

 

Kecuali disebutkan dengan jelas, seluruh tulisan, gambar, ilustrasi dan foto pada situs web ini dibuat oleh Wahyu Purwakusuma. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi situs ini dalam bentuk maupun media apapun tanpa ijin tertulis dari O-Fish.com