Mekanisme pergerakan butiran pigmen pada ikan dikendalikan oleh hormon-hormon tertentu sebagai akibat reaksi terhadap kondisi lingkungan ikan yang berangkutan. Oleh karena itu, ikan bisa tampak berbeda pada kondisi lingkungan berbeda. Pada jenis ikan tetentu hal ini bahkan digunakan sebagai alat kamuflase untuk mengelabui musuh atau pemangsanya. Warna atau pola warna atau corak warna dasar ikan sepenuhnya ditentukan oleh factor genetic ikan yang bersangkutan, yang diwariskan dari tetuanya secara turun temurun.
Tampilan warna ikan selain ditentukan oleh jumlah dan konsentrasi sel-sel warna, juga ditentukan oleh kedalaman letak sel tersebut dalam lapisan kulit. Sebagai contoh, warna biru pada ikan dihasilkan oleh sel warna hitam yang terletak lebih jauh dibawah permukaan kulit ikan.
Warna pada ikan bisa berubah dengan semakin tua ikan tersebut, hal ini sering terjadi misalnya pada ikan koi, dimana warna ikan cenerung memudar setelah tua. Hal ini terjadi karena jumlah sel warna ikan diduga bersifat tetap. Dengan bertambah besarnya tubuh ikan, sel-sel tersebut tidak bisa lagi memenuhi luas permukaan yang harus didukungnya sehingga pada akhirnya warna ikan cenderung memudar. Perubahan juga bisa terjadi sebagai akibat kedudukan sel-sel warna dalam lapisan kulit.. Ikan yang memiliki sel-sel warna (chormatophore) diseluruh lapisan kulit akan cenderung memiliki warna pekat permanen dan stabil, sedangkan chromatophore yang hanya terletak di lapisan permukaan saja bisa hilang setelah waktu tertentu. Sebagai contoh, pada ikan panda muda, akan tampak memiliki warna hitam dipunggungnya yang akan menghilang setelah ikan tersebut berumur 3 tahun. Bahkan pada ikan jenis cichlid, perubahan ini sering terjadi sehingga sering dijumpai ikan golongan cichlid muda berebeda pola warnya dengan ikan cichlid dewasa, seperti misalnya pada jenis ikan Uaru. Perubahan warna sebagai akibat pertambahan usia ini sering dikenal dengan istilah mutasi warna.
Dalam lingkungan akuarium beberapa kondisi tertentu dapat menyebakan sel-sel warna ikan berkontraksi sehinga menghasilkan berbagai tampilan warna berbeda untuk sementara waktu, yaitu:
-
Peningkatan kadar bahan pencemar dalam air, seperti ammonia, nitrit, dan nitrat. Hal ini akan menyebabkan sel warna berkonraksi sehingga ikan cenderung akan berwarna pucat.
-
pH dan kesadahan. Pigmen merah cenderung akan menyebar merata pada air berkesadah lebih rendah dan ber pH lebih rendah. Sedangkan pimen hitam cenderung menyebar merata pada air berkesadahan lebih tinggi dan ber pH lebih tinggi.
-
Warna latar. Pada warna latar pucat, sel warna ikan akan cenderung berkontraksi agar ikan menyesuiakan warna tubuhnya sepucat mungkin. Sedangkan pada kondisi sebaliknya ikan akan bereaksi sebaliknya pula.
-
Penambahan garam kedalam akuarium dapat pula menyebabkan sel warna ikan berkontraksi. Begitu pula dengan pemberian obat-obatan seperti antibiotik, atau obat-obatan berbahan dasar malchite green.
-
Temperatur. Pada temperatur lebih tinggi sel warna ikan akan berkontraksi sehingga ikan cenderung berwarna lebih pucat.
Seperti halnya binatang pada umumnya, termasuk manusia, ikan tidak bisa memproduksi pigmennya sendiri. Pigmen tersebut harus disuplai dari luar tubuhnya. Sedangkan pigmen hanya bisa diproduksi oleh tanaman. Oleh karena itu, agar ikan mampu menonjolkan warnanya dengan optimal, dietnya perlu mengandung pigmen yang diperlukannya. Meskipun demikian perlu diperhatikan bahwa ikan hanya membutuhkan pigmen dalam jumlah seperlunya saja. Pemberian diet pigmen yang berlebih, akan dikeluarkan oleh ikan sebagai kotoran, sehingga tindakan demikian boleh dikatakan hanya akan merupakan tindakan pemborosan, mengingat bahan-bahan demikian biasanya mempunyai harga relatif tinggi. |